Selasa, 07 September 2010

Anak yang Hilang (Eksposisi Lukas 15 ; 11 – 35)


Pendahuluan
Perumpaan tentang Anak yang Hilang adalah perumpamaan yang sudah sering kita dengar atau kita baca. Perumpamaan ini secara khusus menggambarkan bagaimana rasanya menjadi seorang ayah yang kehilangan anak yang sangat dikasihinya. Perumpamaan ini didahului oleh dua perumpamaan yang secara implisit menggambarkan rasa keterhilangan terhadap sesuatu yang sangat disayangi. Dirham dan domba adalah dua jenis harta yang terhilang yang memang harus dicari. Keterhilangan terhadap benda ini membuat pemilik melakukan pencarian.
Keterhilangan juga dirasakan oleh seorang ayah yang ditinggal pergi oleh anak yang sangat dikasihinya. Sebagaimana dirham dan domba yang hilang, Anak yang hilang selayaknya memang juga harus dicari. Perumpamaan ini menggambarkan rasa keterhilangan besar terhadap anak yang pergi, menggambarkan bagaimana rasanya menjadi Ayah yang sakit rindu keterhilangan, sebagaimana Allah sakit rindu kepada manusia untuk kembali setelah memilih untuk pergi dari rumah Bapanya. Tindakan Allah tergambar jelas dari perumpamaan ini didalam penantian terhadap kesembuhan penyakitnya : sakit rindu.
Secara sekilas jika dilihat dari tingkat sosial keluarga ini dapat dikatakan bahwa keluarga ini adalah keluarga bahagia. Jika rasa aman dan kebahagiaan seseorang ditentukan oleh hak milik maka sepertinya tidak ada yang kurang. Tapi bagi anak yang bungsu ketika segala sesuatu mempunyai aturan maka kecukupan akan menjadi tidak ada gunanya. Ayah yang menjadi kepala keluarga menjadi mahluk yang menghalangi kebebasan. Rumah Bapa bagaikan neraka yang harus secepatnya ditinggalkan. Pada akhirnya anak bungsu membe-rontak, menginginkan kebebasan, tanpa aturan tanpa perintah.
Di Taman Eden ketika Allah menumbuhkan pohon ditengah taman (Kej 2 ; 9 + 17), tentang pohon kehidupan dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, Allah berfirman, “jangan makan”, “sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”. Tapi manusia dengan godaan iblis yang berkata “kamu akan seperti Allah”, manusiapun tertarik, memakan, dan jadilah manusia menyingkirkan Allah sebagai oknum yang membuat segala peraturan.
Manusia tidak mendapatkan pengetahuan seperti yang mereka pikirkan kecuali mengetahui “bahwa mereka telanjang”. Allah telah disingkirkan dari kehidupan mereka sebagai Allah pencipta. Ketika manusia memakan buah pohon itu “manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita” (Kej 3 ; 22). Manusia telah “seperti” Allah, menjadi Tuhan bagi diri manusia sendiri. Segala aturan ditetapkan sendiri, pohon pengetahuan yang tidak boleh dimakan bukan lagi sesuatu aturan yang harus ditaati.
Anak bungsu seperti manusia di Taman Eden ingin menetapkan peraturan sendiri. Ayah tidak perlu campur tangan. Maka diapun meminta bagian yang menjadi haknya. Harta yang dimiliki bersama ayah tidak ada artinya tanpa kebebasan dimana dia menjadi tuan atas dirinya sendiri.
Didalam budaya orang Yahudi sebuah wasiat barulah sah jika yang membuat wasiat telah mati (Ibrani 9 ; 17). Maka ketika sang Ayah membagi-bagikan harta warisan yang menjadi hak mereka, apa yang dilakukan anak bungsu dengan menjual bagiannya adalah sebuah tindakan dimana dia menganggap Ayahnya telah mati. Seharusnya apa yang menjadi bagiannya sebagai warisan tidak bisa disentuh selama pembuat wasiat belum mati. Tapi anak bungsu melakukannya.
Ditempat jauh dia berfoya-foya dengan uangnya, menikmati minuman keras, pelacur-pelacur, kehidupan yang glamour bebas tanpa aturan. Memang benar inilah dunia yang saya inginkan, pikirnya dalam hati. Ayah memang penghalang untuk kebebasanku.
Sejauh mana kita terbuang?
Anak bungsu yang telah menetapkan jalan sendiri menjual warisan yang dimilikinya dan menuntunnya ketempat yang jauh. Jauh dari intervensi sang Ayah. Disinilah awal malapetaka bagi si bungsu yaitu indentitas yang benar dalam diri Ayah telah hilang. Bersama Ayah segala sesuatu tersedia, tak terpikirkan apa akibat jika jauh darinya. Kebebesan telah menjadi menara harapan yang harus di gapai, seperti manusia ditaman Eden lupa bahwa mereka adalah ciptaan, anak bungsupun lupa dia menikmati segala sesuatu karena berada di rumah bapanya. Hal yang tidak terbayangkan dan tidak terpikirkan menimpa. Kelaparan, krisis makanan yang tidak pernah dialami selama bersama Ayah kini menimpa.
Keadaannya telah menuntunnya untuk menjadi seorang pekerja (penjaga Babi) pada seorang majikan. Tetapi menjadi pekerja juga tidak memperbaiki nasibnya. Makanan sangat sulit untuk didapatkan sekedar bertahan hidup. Ampas yang diperuntukkan untuk babi kini dipandang layak untuk dimakan. Itupun tidak diberikan oleh sang majikan. Apa yang kita lihat jika seseorang ingin mengisi perut dengan ampas adalah kondisi yang benar-benar parah dan barangkali sudah tidak makan beberapa hari. Tak terbayangkan jika “ampas” sudah dianggap layak untuk dimakan.
Keinginan untuk mengisi perut dengan ampas pun tidak bisa dia dapatkan. Anak ini telah pergi kemana-mana hanya untuk mendapatkan ampas untuk dimakan tetapi “tak seorangpun” (Ayat 16) yang mau memberikannya. Anak bungsu ini benar-benar dalam kesulitan besar. Susah makan dan minum, dan juga eksistensinya sebagai manusia terancam hilang karena kelaparan. Dia telah jauh pergi, sejauh itu juga dia menghilangkan arti kehidupan dalam dirinya. Kehidupan yang di impikan lebih baik jika tanpa Ayah malah menjadi malapetaka besar.
Anak bungsu yang malang, terbuang oleh keinginan sendiri dikandang babi, lemas, kotor dan menjijikkan oleh bau kandang kini tak berdaya dan seolah tak berharga. Dari sudut pandang sang majikan babi telah dianggap lebih penting dan lebih berharga untuk dikasih makan daripada anak bungsu. Ya inilah dia anak bungsu, babi telah “lebih berharga” daripada dia. Itulah kita manusia tanpa identitas Bapa … Jauh dari pangkuan Illahi, babi itu telah lebih berharga daripada kita.
Disini : Dikandang …. Yesus lahir.
Kalau kita pernah mempunyai ternak babi atau paling tidak jika kita pernah pergi ke kandang babi kita pasti tahu kondisi kandang babi. Bau menyengat yang jika kena ke tubuh bisa-bisa baunya tidak hilang beberapa hari. Disinilah sianak bungsu berkutat, kesehariannya bergumul tentang kehidupannya, mengharapkan kondisinya lebih baik. Bau jijik tidak terhindarkan. Tidak ada pakaian bersih, tak ada fasilitas untuk membersihkan badan, kondisinya makanpun susah.
Tapi disinilah … ya disini ditempat bau dan kotor, becek dan menjijikkan, disini Anak Tunggal Bapa memilih untuk dilahirkan. Bagaimana mungkin Allah Alam semesta berada ditempat itu. Bukankah seharusnya Dia ada si Singgasana Kerajaan Kekal milikNya? Tetapi Dia memilih ditempat kumuh dengan bau busuk menyengat, ditempat kita berkubang. Yesus itu … sang Mesias memilih tempat lahir pada tempat yang “tidak seharusnya” agar kita manusia yang sangat dikasihinya berada ditempat “yang seharusnya”. “Anakku tempatmu bukan dikandang ini, mari ke Istana milik Bapa”, seruNya.
Sadar akan keadaannya
Titik balik bagi si bungsu adalah : pertama, dia menyadari keadaaanya. Melihat dirinya yang terancam, dia teringat masa lalu dimana segala sesuatu tersedia. Di rumah Bapaku banyak orang upahan yang berlimpah-limpah makanannya tetapi aku disini mati kelaparan (ayat 17). Kesadaran ini membangkitkan semangatnya untuk kembali kepada Bapanya. Dia melihat dirinya “mati kelaparan”. Dia menangis, dia rindu dan dalam sekejap dia menyadari bahwa tak ada yang lebih diinginkannya di dunia ini kecuali pulang.
Kedua, dia mau bangkit dan pergi (ayat 18). Anak bungsu ini berani mengambil keputusan untuk kembali kepada bapa dengan harapan sedikit belas kasihan. Dia tidak mengharap untuk mendapat haknya kembali sebagai anak, cukup hanya sebagai hamba, orang upahan bapanya sendiri. Tindakan inilah yang sebenarnya tindakan bertanggung jawab, sikap ksatria yang mau mengakui kesalahan dan mau memohon pengampunan. Menolak untuk mengakui bahwa kita berdosa adalah tindakan yang akan membawa kita kepada kehancuran.
Ayah yang selalu Menunggu
Ada sesuatu yang menarik dari adegan jika seandainya kita merekonstruksi pertemuan dari Ayah yang selalu merindukan anaknya untuk pulang. Anak ini telah menyusun serapi mungkin urutan kata-kata yang akan diucapkan ketika suatu saat akan bertemu dengan ayahnya. Melafalkan dengan baik, puitis dan bermakna Theologi. Aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap Bapa, ungkapnya dalam hati (ayat 18). Tetapi ayah itu yang setiap kali pergi kejalan, dengan tatapan terpusat, melihat ke kejauhan jika ada orang yang pulang. Tetapi sering sekali dia kecewa, pulang dengan lemas, tergeletak ditempat tidur dengan pikiran menerawang, dengan cemas tetapi tetap berharap anaknya pulang. Sering kali dia pergi hanya untuk kecewa lagi.
Suatu petang ada orang yang pulang, dengan langkah gontai dan lemas, berpakaian lusuh dan nyaris tak kenal lagi. Sudah kurus oleh karena ditimpa kelaparan yang panjang, tapi raut wajah itu sepertinya masih kenal dan gerak langkahnya menggugah ingatan, sedikit ragu dan menajamkan penglihatan dan akhirnya dia dapat memastikan … anakku telah pulang. “Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, maka tergeraklah hatinya oleh belas kasihan (ayat 20). Sang ayah menemukan anaknya (kembali) seolah telah mendapat segalanya. Ayah berlari mendapatkan anaknya.
Bagi orang Yahudi seorang yang terhormat berlari adalah hal yang sangat memalukan. Dengan kondisi jalan kotor dan berdebu maka berlari adalah sesuatu hal yang tidak mungkin kerena akan mengotori dirinya. Selain itu kebiasaan dalam adat Yahudi yang menjaga teguh pengamalan Hukum Taurat berlari adalah tindakan mempermalukan diri sendiri, bahkan jika turun hujan sekalipun seorang Yahudi akan tetap jalan seperti apa adanya. Tapi ayah tidak menghiraukan rasa hormatnya, memilih untuk mempermalukan dirinya sendiri di depan orang banyak untuk seorang anak yang telah menghabiskan setengah harta keluarga hanya untuk foya-foya.
Hati ayahnya tergerak oleh belas kasihan, ketika melihat anaknya tidak seperti yang dimaksudkannya. Keinginan anaknya untuk pergi telah membuat dia terhilang. Ayah tahu bahwa jika anaknya jauh darinya kelak dia tidak berarti apa-apa. Tapi ayah tak kuasa menolak permintaan anaknya yang ingin pergi. Ayah membiarkannya dengan harapan suatu hari … anaknya menyadari bahwa dia membutuhkan ayahnya. Kasih yang tulus dari bapa bisa tidak berarti apa-apa jika yang dikasihi menolak untuk dikasihi. Ayahnya sakit mengerang, ia mau mengasihi tetapi tidak tahu harus mengasihi siapa. Anaknya memilih untuk pergi.
Seiring waktu berputar kasih akan anak memuncak menjadi suatu kerinduan yang dalam akan kembalinya anaknya. Kasih itu semakin hari semakin memuncak dan menjadi belas kasihan. Belas kasihan yang lahir dari rasa rindu yang dalam dan lama terpendam. Dia melihat pilihan anaknya dalam ketidaktahuannya, membuat dia menderita. Namun ayah tak dapat berbuat apa-apa selain menunggu dan menunggu.
Seperti ayah, Allah memendam kerinduan yang dalam dan lama kepada manusia. Menanti dengan tekun agar kita mau kembali. Allah berbelas kasihan karena kita telah menentukan pilihan untuk berdosa. Dia melihat kita menjadi asing karena dosa. Rupa dan Gambar Allah yang ada pada kita telah tercoreng moreng. Dia ingin merajut kembali raut wajah suram manusia yang kusam tanpa arti. Ia masih ingat bagaimana ciptaanNya dahulu … rupa Allah tersimpan dalam setiap wajah manusia. Allah tidak pernah membiarkan manusia, Dia tidak pernah berdiam diri, tetapi selalu berpikir, bagaimana caranya manusia kembali kepangkuannya. Seperti yang dikatakan Nabi Yesaya, :
“Oleh karena Sion aku tidak dapat berdiam diri, dan oleh karena Yerusalem aku tidak akan tinggal tenang, sampai kebenarannya bersinar seperti cahaya dan keselamatannya menyala seperti suluh”. (Yes 62:1)
Kasih yang menembus batas-batas
Dalam adat-istiadat orang Yahudi, yang telah turun-temurun, Babi adalah binatang yang najis jika di sentuh. Setiap orang yang bersentuhan dengan Babi akan menjadi najis sampai hari terbenam (Im 11). Bahkan perkakas yang kena dengan bangkai Babi harus dipecahkan dan dibuang (Imamat 11:33).
Pada perkembangan selanjutnya sejarah Israel mencatat di zaman Nabi Yesaya, bahwa orang yang memakan Babi, Allah berfirman,
“Mereka yang menguduskan dan mentahirkan dirinya untuk taman-taman dewa, dengan mengikuti seseorang yang ada di tengah-tengahnya, yang memakan daging babi dan binatang-binatang jijik serta tikus, mereka semuanya akan lenyap sekaligus, demikianlah firman TUHAN. (Yes 66:17).
Orang yang bersentuhan dengan Babi, bukan hanya najis sampai matahari terbenam, tetapi Allah sendiri yang akan melenyapkan orang tersebut dari muka bumi.
Namun bagi ayah ini, setelah melakukan tindakan tak lazim untuk berlari menyonsong anaknya, kembali melakukan hal yang tak terduga. Anaknya yang bau busuk, najis dan menjijikkan, lama berkutat dikandang babi yang menajiskan dirinya, tak terurus, dirangkul dan dicium. Rasa rindu dan kasih abadi telah menembus batas-batas kewajaran yang dapat dibayangkan dengan akal sehat. Ayah ini tidak memperdulikan rasa hormatnya, bahkan tidak peduli, jika dengan memeluk anaknya, dia akan menjadi najis dan seharusnya dilenyapkan.
Sang ayah telah menemukan kembali harta yang paling berharga, anaknya yang telah mati hidup kembali. Tak ada sukacita melebihi sukacita seperti itu. Kasih abadi memang tidak memperdulikan apakah dengan mengasihi, dia sendiri akan menderita, bahkan mati. Ayah ini, dengan tulus hati, dengan Kasih yang melimpah, bahkan memberi tubuhnya menjadi sasaran tembak, untuk menyatakan Kasihnya kepada anaknya yang terhilang.
Itulah Allah kita, melalui Yesus, Dia memberi tubuhnya sendiri menjadi sasaran upah dosa,dan membiarkan diri ditindas, hanya karena satu alasan, Karena Dia adalah Kasih itu sendiri.
Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. Yes 53 ; 4 -8
Dari adengan rangkulan dan ciuman itu Ayah masih dengan kuat merangkul, mencium pipi dengan gemas, anaknya mencoba menuturkan kata-kata yang telah disusun dan dilafalkannya. “Ayah” ... kemudian dia berhenti … ciuman ayahnya mengganggunya untuk menuturkan kata-katanya ... “aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap Bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa”. Belum semua diungkapkan, kata-kata yang dilafalkannya dahulu, tetapi ayahnya seolah tidak mendengar … tidak menghiraukan apa kata anaknya … malah… ”Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, … kenakanlah cincin, … dan sepatu. “ Lalu ayah melanjutkan … dan anaknya masih dalam pelukan, dia menoleh kekiri dan kekanan, memanggil hamba-hambanya….” Ambillah anak lembu tambun itu … mari makan dan bersukacita”.
Seperti bapa yang rindu akan anakNya, demikian kerinduan Allah untuk kita. Disana di sorga semua malaikat sudah siap dengan semua alat musiknya. “Demikian akan ada sukacita pada Malaikat-malaikat Allah di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat” kata Yesus (Luk 15 ; 10). Ketika seorang memutuskan untuk kembali maka semua alat musik itu akan berbunyi serentak. Mari bersukacita kata mereka.
Apa yang kita lihat, Ayahnya tidak menghiraukan permintaan maaf anaknya. Seolah-olah dia berkata, “Semua sudah diampuni”. “Nak tidak usah ucapkan semuanya, ayah sudah tahu tapi sudahlah”. Ayahnya tidak berkotbah, “nak mudah-mudahan kamu bisa belajar dari kesalahan ini”. Itulah Allah yang selalu menanti kita, tangganNya selalu terulur dan selalu ada pengampunan. Dia tidak menghitung kesalahan yang kita lakukan, tetapi dengan murah hati mengampuni lalu melupakan. Dia tidak melihat sejauh mana kita pergi tetapi sejauh mana kita mau kembali. Dia tidak melihat sejauh mana kita memberontak, tapi sejauh mana kita mau mengaku dosa kita.
Dari sudut pandang manusia, babi telah lebih berharga daripada kita. Tapi dari kacamata Allah kita adalah mutiara yang sangat berharga dimataNya. Kita dalah puisiNya, ciptaanNya, kebanggaanNya, karyaNya. Tak kala mataNya tertuju kepada manusia yang berdosa, hatiNya tertusuk dalam oleh anak panah dosa, tetapi Dia ingat ketika menciptakan manusia, seolah hatiNya melompat kegirangan, “sungguh amat baik” (Kej 1;31). Dia tidak lupa dengan rupa dan gambarNya sendiri, ketika melihat manusia, rupa dan gambar Allah, tercoreng moreng, cerminan wajahNya, hatiNya pilu oleh kepedihan mendalam. Karena itu Dia tidak pernah berhenti, dengan hati gelisah mencari cara agar rupa dan gambarNya berada bersamaNya, terukir kembali dan layak untuk dibanggakan.
Kita dari yang tidak berharga, dari kandang babi dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Bapa yang memilih untuk tidak menghiraukan harga diri sendiri, mencium dengan erat dengan kasih Illahi dari sang pencipta, hanya dengan satu alasan “anakku engkau sungguh berharga”. Dan inilah alasanNya untuk lahir dikandang domba ditempat dimana kita berkubang, kita … dosa kita adalah alasan perjalananNya ke dunia. Dan disana dipusat masalahnya yaitu dosa kita, Dia menyerahkan nyawaNya. Jika kita bertanya sejauh mana Engkau mengasihi aku ya Allah, tanganNYA yang berlobang, bekas paku, tidak pernah bisa bohong.
Anak Sulung itu bernama Pelayan
Anak Sulung yang kesehariaanya adalah bekerja di ladang ayahnya. Setelah sepanjang hari dia bekerja, terpanggang oleh terik matahari dalam keadaan lelah dan gerah dia kembali dari ladang. Sesuatu yang berbeda terjadi sore itu, ada ribut-ribut, terdengar suara gaduh mewarnai rumah mereka. Ia yang dalam keadaan lelah dan lapar tentu mudah tersulut emosi. Ia juga barangkali mengenakan baju untuk keladang, bukan baju bagus yang biasa digunakan untuk acara resmi. Ia juga lusuh seperti anak bungsu, tapi ia baru dari ladang bukan dari foya-foya bersama pelacur.
Anak sulung tidak langsung menuju rumah, kakinya berhenti oleh suara riuh dari rumah. Ia sebenarnya ingin beristirahat setelah seharian lelah. Tapi suasana rumah tidak mengizinkan oleh pesta tak lazim. Ia memanggil hambanya dan bertanya ada apa gerangan. Adikmu telah kembali … (ayat 26). Membayangkan adiknya yang dahulu telah memberontak dengan meminta yang menjadi haknya sebelum waktunya, kegeraman hati yang telah lama tersimpan terkuak kembali. Selanjutnya masih cerita hamba itu … “ayahmu telah menyembelih lembu tambun”.
Respon dari ayah terhadap anak bungsu yang memberontak menjadi pemicu kemarahan yang dalam bagi anak sulung (ayat 28). Bagaimana mungkin untuk pemberontak di potong lembu tambun yang nyatanya dia pelihara sendiri. Anak sulung bukan hanya marah tapi juga merajuk. Dia tidak mau masuk. Padahal pesta itu adalah pesta untuk adiknya. Sebagai anak sulung dan kakak seharusnya dia ada disana memberi selamat pada adiknya yang telah kembali. Tapi dia tidak melakukannya. Dia berpikir, dia ini … “adiknya” lebih pantas untuk diusir dan dihukum daripada dirayakan dengan lembu tambun. Kasih kepada adiknya telah lama terkikis habis oleh amarah dan kebencian bertumpuk selama adiknya pergi yang menghabiskan setengah harta keluarga. Ayahnya yang keluar untuk membujuk diapun tidak di indahkannya.
Anak Sulung : Pelayan yang mengharapkan Apresiasi
Secara sekilas siapakah yang seharusnya lebih layak di berikan penghargaan diantara anak sulung atau anak bungsu? Barangkali anak sulung lebih pantas! Atau barangkali Injil ini salah tulis? Atau sang ayah tidak tahu bagaimana menghargai hasil kerja seseorang? Bukankah anak sulung telah melayani selama bertahun-tahun? Bukan hanya itu, dia juga tidak pernah melanggar perintah ayahnya (ayat 29). Suatu perilaku anak yang layak untuk diteladani. Boleh dikatakan jika moralitas menjadi acuan, anak sulunglah seharusnya yang lebih layak untuk dapat jubah, cincin dan sepatu. Bukankah demikian?
Ada beberapa hal yang perlu kita cermati dari respon anak sulung sebelum kita mengambil kesimpulan. Pertama, anak sulung melayani ayahnya bukan atas dasar kebebasan. Seperti anak bungsu yang tidak bebas dari intervensi sang ayah selama di rumah, anak sulung inipun juga tidak bebas dari dirinya sendiri untuk mendapatkan Apresiasi (penghargaan) dari ayahnya. Sejak anak bungsu pergi dan “bebas” sampai kembali lagi, anak sulung ini masih belum juga bebas, dia masih mengharapkan penghargaan dari ayahnya. Dia mengenakan kuk kepada dirinya sendiri berupa harapan penghormatan semu, dan itulah yang mendorong dia untuk melakukan segala sesuatu termasuk untuk tetap taat kepada ayahnya. Dia bukanlah orang merdeka tetapi orang tawanan keinginannya sendiri.
Kedua, anak sulung ini berlaku seperti orang upahan ayahnya dirumahnya. Kalau dirumahnya ada gaji yang yang diterima hamba ayahnya, diapun mengharapkan sesuatu dari pelayanan yang dia berikan. Padahal semua kepunyaan ayahnya adalah kepunyaannya juga (ayat 31). Tetapi dia merasa tidak memilikinya. Dia kehilangan makna “kebersamaan” dengan sang ayah dan mengharapkan seekor kambing, Dia benar-benar kehilangan identitas sebagai anak ayahnya. Jhon Stott dalam bukunya Kotbah dibukit berkata “Identitas kita sebagai anak Allah telah kita hilangkan, dengan sengaja, untuk memperebutkan segenggam kekuasaan dan secomot harta”. Anak sulung masih “mematuhi” ayahnya karena barangkali mengharapkan lembu, tetapi pada saat itu kambingpun belum dia terima. Anak sulung menggambarkan potret kita sebagai pelayan dizaman ini yang mengharapkan kelinci-kelinci sebagai upah dari pelayanan yang kita berikan.
Ketiga, anak sulung didorong oleh keinginan sendiri dan berpusat kepada diri sendiri. Telah bertahun-tahun “aku” … dan belum pernah “aku” melanggar perintah … tetapi kepada “ku” belum pernah bapa memberikan seekor kambing untuk bersukacita dengan teman-teman “ku” (ayat 29). Pelayanan yang dilakukannya didorong oleh motivasi untuk membesarkan diri sendiri dan tidak berhenti sampai mendapatkan apa yang diinginkannya. Oleh karena itulah barangkali Paulus dalam suratnya kepada Timotius memperingatkan “Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus (II Tim 2 ; 1). Betapa riskannya melayani yang berpusat pada diri sendiri dan di dorong oleh kerinduan mendapat penghargaan dan untuk menjadi besar, didorong oleh motivasi aktualisasi diri, bukan kuat oleh kasih karunia Allah yang pada akhirnya melahirkan kelemahlembutan dan kerelaan. Anak sulung ketika tidak mendapatkannya, kehilangan motivasi dan arah, melayani dan menuruti kehendak bapanya bukan lagi sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan dalam kesehariannya. Dia merajuk … merajuk didalam kepatuhan.
Berpijak pada moralitas
Menarik dari cerita ini bahwa anak sulung tidak pernah melanggar perintah ayahnya, tetapi selalu menurutinya (ayat 29). Dia berusaha untuk tampil baik, selalu ingin diterima, disukai dan menjadi “teladan” … juga untuk adiknya yang memberontak. Tetapi tanpa disadari dia sudah terjebak intensitas moralitas yang serius, dan bahkan sentuhan fanatisme moral (Farisi moral?), yang akhirnya membuat dia semakin sukar menikmati suasana bebas dan merasa betah di rumah bapanya. Ketidakbebasan itu telah membuat dia tersiksa dan melahirkan dendam mengakar pada sang adik yang dia pikirkan telah bebas.
Dalam kitab Injil sering sekali Yesus mencela orang-orang yang mengandalkan moralitas. Dalam Lukas 18 ; 9-14 secara khusus di paparkan bagaimana tanggapan Allah terhadap orang yang menganggap dirinya benar dengan orang yang untuk menengadah ke langit pun tidak sanggup. Siapakah orang yang dibenarkan Allah? Perikop ini mencatat yang dibenarkan adalah orang mengakui bahwa dia berdosa. Tradisi Farisi yang memegang dengan ketat hukum taurat, yang pada zaman Musa hanya 10 kemudian dipaparkan menjadi sekitar 360 hukum. Tidak boleh mengingini diterjemahkan menjadi tidak boleh melihat dll, justru mendapat kecaman dari Yesus sendiri.
Kenapa moralitas tidak mendapat tempat? Ini berkaitan dengan tujuan hidup itu sendiri. Anak sulung jauh dilubuk hatinya yang paling dalam mempunyai tujuan yang sebenarnya tidak berkenan seperti yang sudah dicatat diatas. Disadari atau tidak dia sedang membohongi dirinya sendiri dibalik pelayanan dan “ketulusan” yang dia lakukan. Dia rajin memelihara azas-azas yang dia tetapkan sendiri untuk tujuan hidup sendiri. Tidak ada seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, kata Paulus dalam Gal.2;17. Anak sulung berusaha menaati segala sesuatunya untuk mengharapkan pembena-ran (legalisme) bagi penurutannya, padahal tidak seorangpun dibenarkan oleh karenanya. Mengharapkan penghargaan dari “prestasi” moralitas benar-benar menyakitkan hati Allah. Kasih Karunia kata Philip Yancey “berarti tidak ada yang dapat kita lakukan agar Allah lebih mengasihi kita”. Dia adalah kasih itu sendiri.
Lalu dimanakah letak moralitas dalam kehidupan Kristen? Moralitas mempunyai tempat jika dilakukan untuk tujuan memperluas kerajaan Allah di dunia. Moralitas adalah wujud tanggung-jawab sebagai orang Kristen yang lahir dari kesadaran bahwa kita adalah surat-surat Kristus yang akan dibaca oleh semua orang, bukan menjadi ajang perlombaan dan bahan perbandingan dengan orang lain. Dia bebas, tidak terikat oleh suatu apapun. Dimana ada ketaatan disana juga harus ada kebebasan, kalau tidak dia hanya belenggu yang akhirnya melahirkan kelelahan.
Perbedaan yang saya lihat
Perbedaan yang kontras diantara kedua anak ini sangat jelas yang menunjukkan siapa mereka dihadapan Allah. Anak bungsu rindu untuk pulang, sementara anak sulung ingin meninggalkan rumah. Anak bungsu datang dengan kepala tertunduk, anak sulung selalu menepuk dada dan berkata bahwa dia adalah yang terbaik dan selalu mengharapkan pengakuan untuk dapat dikatakan sebagai orang “rohani”.
Anak bungsu tidak sulit untuk mau kembali. Dia sadar dia tidak punya pijakan memadai untuk dikatakan anak baik. Dia tidak punya apa-apa yang bisa diandalkan untuk kebanggaan rohani. Jika dibandingkan dengan anak sulung, dia telah gagal. Dia hanya berharap dan bersandar penuh kepada Kasih Karunia yaitu pengampunan sempurna dari sang ayah. Yang dia tahu hanya “aku telah terbuang dan hampir mati”. Dia rindu pulang dan berharap untuk menjadi hamba ayahnya bukan sebagai anak (ayat 19). Dia berhasil … dia mendapatkan jubah, cincin dan sepatu (ayat 22).
Anak sulung yang sibuk untuk membandingkan dirinya dengan adiknya yang tidak “bertanggungjawab”, tidak bisa melihat kebenaran dalam dirinya. Dia merasa paling benar yang tanpa dia sadari ketika dia berkata bahwa saya selalu menuruti perintah bapa, pada saat itu juga dia sedang mempertontonkan pembangkangan hebat atas ajakan ayahnya untuk masuk. Anak sulung tidak belajar dari ayahnya yang memberi pengampunan. “Tetapi padaMu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang”, kata Daud (Maz 130 ; 4). Ayah memberi pengampunan sekaligus kesembuhan bagi anak bungsu, anak sulung membuka luka lama dan menciptakan luka baru bagi adiknya dan juga ayahnya sekaligus untuk dirinya sendiri. Menolak memberi pengampunan pada adiknya berarti secara tidak langsung dia berkata bahwa adiknya tidak layak diampuni sekaligus mempersalahkan tindakan ayahnya.
Anak sulung yang dipenuhi dengan kebencian, sangat sulit untuk diajak pulang kerumah (ayat 28), dia menolak ajakan ayahnya. Dia dipenuhi dengan ilalang keinginan yang telah menjadi belukar, sulit dibidik dengan tepat untuk mengerti bahwa dia juga dikasihi oleh ayahnya. Pulang dari petualangan hawa nafsu, pelacuran, dan hal-hal menjijikkan tampaknya jauh lebih mudah daripada pulang dari kemarahan dingin dan mengakar dari anak sulung yang sibuk dengan moralitas yang tidak bebas itu.
Dalam Film “Future Tense” ada sebuah kalimat yang menarik bagi saya. Diakhir film itu ada kalimat yang berkata begini “Orang-orang besar didunia sangat sulit untuk diajak (pulang) maka ajaklah orang-orang kecil”. Orang besar sibuk dengan dunianya, orang kecil …. tidak mempunyai sesuatu yang berharga untuk ditinggalkan. Dari kalimat film itu aku berpikir dan memahami apa arti ucapan bahagia dalam “Kotbah di Bukit” Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah … (Mat 5;3). Saya kira Yesus benar, berbahagialah orang yang “dikandang babi” karena dia rindu untuk pulang, “Karena mereka yang empunya kerajaan Sorga” kata Yesus selanjutnya. Sebaliknya celakalah orang yang tidak menyadari bahwa dia ada dikandang babi dan celakalah orang yang ingin menjadi “besar”.
Kita dan Anak Sulung
Jika aku harus memilih seperti apakah yang saya inginkan dari sikap saya kepada Allah dari kedua anak ini? Saya rasa tidak sulit, saya memilih menjadi anak bungsu daripada anak sulung. Anak bungsu mau merajut kembali keping-keping kehidupannya yang telah hilang. Dia ingat ayahnya, dan benar-benar bersandar pada pengampunan.
Kita lebih sering menjadi anak sulung, bukan meninggalkan “kandang babi” tetapi justru menuju kesana. Sering kehilangan identitas dan tuli terhadap Allah oleh kemerduan senandung dunia. Sering kehilangan motivasi dan arah karena tujuan hampa. Dari anak sulung kita boleh bercermin, sejauh pelayanan itu tidak untuk kemuliaan Allah maka pada titik tertentu kita akan melihat pelayan-pelayan yang merajuk karena kecewa kepada diri sendiri, lingkungannya dan juga kepada Allah. Jika dahulu Allah mengeluh .. Israel oh Israel .. Sekarang barangkali ..teriakan itu diarahkan kepada Gereja yang didalamnya kita ada sebagai seorang pelayan .. anak sulung oh anak sulung … pelayan oh pelayan.


Dari : Anak Sulung .... Seorang Pelayan
Poltak Marbun

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar