Selasa, 07 September 2010

Melayat

Kenapa dia tiba-tiba berubah
Menjelma menjadi malaikat
Apakah kebaikanmu membahana?
Selama engkau mengabdi?

Ah .... semua kebohongan belaka
Dia tidak menjadi senang lagi
Hanya kebohongan tercipta haru
Menggema diatas tipuan dunia

Kejujuran ... kenapa engkau begitu mahal?
Bukankah engkau tersimpan dilubuk hati?
Lalu kenapa engkau tidak bersuara
Agar yang lain tidak tertipu

Hidupnya utarakanlah
Agar yang hadir .. bukan yang mati
Dapat mengambil hikmad
Agar hidupnya .. untuk ditangisi tulus

Hidupnya senandungkanlah
Agar yang hidup ... bukan yang mati
Menjaga hatinya..
Untuk tidak menyakiti sesamanya!


Poltak Marbun

Binjai, 21 September 2003

DUA SISI

Menyaru biru luka pedih
Jerit jiwa membelah langit
Tetes air mata alirkan bara
Jiwaku, jiwaku memberontak

Satu sisi detik dekat disampingku
Suara kemenangan pekikkan telinga
Lupakan duka lupakan sengsara
Seolah segalanya sudah digapai

Aku sedikit saja .. hampir berada disana
Berteriak diantara manusia yang meraih kebahagiaan
Tidak ada beda hanya hidup ada di dua sisi
Begitu dekat begitu tipis untuk digapai

Ada hal-hal diluar kendali
Diantara kegagalan dan keberhasilan
Diantara Pahlawan dan Pecundang
Diantara kalung bunga dan cibir
Ada satu yang berdaulat “KUASA”
Yang hanya dimiliki sang Pencipta

Maka hidup adalah kepasrahan
Ketergantungan pada Illahi
Yang berkuasa menentukan arah kehidupan
Untuk berada disisi yang mana

Hari ini aku teringat
Anak anak…padanya ada kerajaan Allah
Bahwa hidup harus dimaknai
Dengan hati anak-anak

Poltak Marbun
10 November 2004

Makna Hidup

Terbujur kaku menghadap bisu
Begitu kau kini ketika ajal menjemput
Tiada lagi denyut nadimu bergoyang
Hilang..hilanglah kau kini

Menjaring angin itulah hidup
Apakah yang dapat ditulis di Nisanmu
Hanya yang kekal saja yang tetap
Yang membuat arti yang takkan dilupa

Apakah yang terukir dimenara hidupmu
Hartamu .. tiada bisa untuk mengikut
Bukti kau pernah ada dicipta
Apakah yang bisa untuk dikenang..?

Hidupmu akan bermakna
Jikalau dimaknai dengan “Hidup”
Maka maknailah dia dengan maknamu sendiri

Hidup akan bermakna
Dikenang dan dirindukan
Jika selama kita hidup
Dimaknai dengan makna Kristus



Poltak Marbun

Binjai, 21 September 2003

Bakara

Bakara .....
Teragung ...
Termashyur ....
Tersebut selalu ....


Bakara ...
Tempat Istana ...
Tempat dilahirkan para Raja ..
Berdiam dalam memerintah ...


Di Sulu-sulu pemberitaaan lahir datang ...
Di Lumban-Raja terlahir ....
Aek Sipangolu air minum prajurit ...
Sinambela tempat duduk dan bekas tongkat ...


Bakara ...
Berdinding bukit beratap langit ...
Dilembah subur terletak ...
Menatap Danau ...


Membelah lah sungai Silang ...
Mengalir ke Danau Toba ....
Alirannya mengairi sawah dan ladang ...
Dan suburlah bawang dan padi ...


Bakara ...
Negeri orang beradat ...
Dikunjungi para terkemuka ....
Dari seantro jagat ....


Bakara ...
Bakara .....
Kapan kah lagi engkau ...
Meraih Mahkotamu ....????

Oktober 2009

Menuju Tarakan

Setibanya aku diwaktu ini …
Dan mengumbar setiap kata-kata bersamamu ..
Ingin saja aku berada di waktu yang lalu …
Seperti pertama sekali aku menatapmu …

Ingin kuungkapkan kata-kata indah …
Yang hanya tercipta untukmu …
Namun aku takut …
Maksud hatiku tidak berbalas dengan harga yang setara …

Bagai laut yang dalam tak terduga …
Engkau semai benih keraguan …
Dengan senyum Indah dan dingin …
Engkau membiarkanku dengan sejuta kekaguman …

Aku takut tenggelam didalamnya jiwamu …
Yang pelit kata-kata miskin gurauan …
Hanya engkau menarikan keanggunan …
Setiap kali aku mendapati diriku dihadapmu …

Ingin kupungut kembali …
Semua kata-kata cinta yang sering kutitipkan …
Dihati yang belum tentu seperti yang kuungkapkan …
Yang sering ternyata berpindah dan berjalan sendiri …

Andai saja aku tahu masa ini …
Saat aku berdiri di hadapmu lagi …
Dan kata-kata yang dahulu ingin kuungkapkan …
Aku punya kesempatan melantunkannya sekali lagi …

Ingin kunikmati sisa hidupku …
Disisimu selalu menikmati senyummu …
Yang lebih berarti dari berjuta kata cinta …
Yang bisa diungkapkan wanita manapun …

Aku tak melihat sesuatu yang lebih berarti untuk kukejar …
Selain daripada cinta yang bisa engkau beri …
Dan sesuatu yang mungkin kupertahankan …
Untuk tidak bergegas mengejar cintamu …

Itulah sebabnya kubuang segala keraguan …
Untuk datang berterus terang …
Berdiri tegak tanpa malu …
Mengucap kekaguman yang telah dibungkam sepanjang waktu …

Ingin aku membangun jalan cinta …
Melalui hutan lebat dan samudra yang luas…..
Berlari jauh kearahmu ….
Menuju Tarakan …


September 2009

Lelaki Paling Agung

Dengan nada-nada …
dan senandung yang terucap dari bibirmu ...
akan membuat para seniman tersenyum …
dan mengalirkan inspirasi …
untuk melahirkan kidung yang agung lagi ...

dengan nada-nada yang tercipta dari jemarimu,
akan membuat kepenatan jadi kedamaian...
dengan keanggunan jiwamu..
Akan kau rampas dengan mudah ...
kemegahan laki-laki yang paling agung…

Sang penyair akan berpuisi..
para pujangga akan berkarya …
komponis bergairah lagi …
untuk melukiskan mu...

Aku tak tahu....
Apakah engkau menyadarinya …
Tapi untuk itulah aku datang
Untuk mengatakan ….
Terpujilah Tuhan...
Yang menciptakan keindahan …
untuk kita syukuri....

Januari 2009

Janji Teringkar

Hari ini seperti hari itu....
Ada cinta disini....
Engkau dengan janjimu...
Terucap kepada Khalik ....

Setiap senja ....
Tak pernah merelakanmu ....
Bisakah kisah tak se kejam ini mampir ..?
Sementara janji teringkar membelukar dalam gelisah...???

Bisakah engkau membangun bahagia ...
dalam derita menimpaku...
Menjalani hidup yang sumir ...
Yang tak seharusnya ada..???

Engkau menyisakan ...
Setitik noda di jiwaku ....
Yang kau inginkan sendiri ...
Untuk kulakukan ....

Aku akan mencarimu ...
Melanjutkan cerita kita ....
Agar aku dapat melanjutkan hidup ...
Tanpa malu.....

Aku akan kembali ...
Membenarkan keadaan ...
Aku akan tertidur sejenak ...
Bangunkan aku... kala waktumu tiba ....


30 Juli 2009