Seperti biasanya di akhir tahun, kita
selalu disibukkan oleh suatu pesta yang sering kita sebut Natal. Kalau kita
ditanya apa yang kita rayakan setiap tanggal 25 Desember itu, maka jawaban yang
sering kita berikan adalah Hari kelahiran Tuhan Yesus? Maka kita secara
universal di Indonesia dan di seluruh dunia mengakui bahwa tanggal kelahiran
Tuhan Yesus adalah tanggal 25 Desember itu. Namun jika pertanyaan kembali
dilanjutkan Tahun Masehi dihitung mulai kapan, maka akan timbul jawaban yang
membuat rancu yaitu sejak kelahiran Tuhan Yesus, seolah-olah kelahiran Tuhan
Yesus terjadi pada tanggal 01 Januari tahun 01. Dan memang mengacu kepada Kamus
Besar Bahasa Indonesia arti Masehi dalam tahun yang kita jalani sekarang adalah
tahun sejak lahirnya Tuhan Yesus.
Tetapi kerancuan ini sering kita
abaikan karena turun temurun sejak kecil kita sudah merayakan Natal tanpa
peduli dalam kaitan mana itu kita lakukan. Dibalik sukacita besar yang kita
alami, kue yang lezat yang kita nikmati, baju baru yang kita kenakan, keindahan
dekorasi yang kita buat dan pesta yang kita rayakan tidakkah pernah terbersit
sebuah tanya apa yang sedang kita lakukan? Jika kita mengatakan kita merayakan
Natal untuk merayakan Kelahiran Tuhan Yesus, mengacu pada pertanyaan rancu
diatas apakah benar demikian?
Terlepas dari bagaimana kita dizaman
ini merayakannya, pada kesempatan ini penulis mencoba mereview kembali sejarah
yang pernah dicatat kapan Tuhan Yesus dilahirkan dengan harapan kita dapat
menempatkan dengan tepat tujuan dan makna dari perayaan yang sudah mengakar
itu.
Minimnya Informasi
Harus kita akui bahwa tulisan sejarah
yang menyangkut Tuhan Yesus sangatlah sedikit. DizamanNya tulisan sejarah yang
paling banyak adalah menyangkut penguasa saat itu baik di Israel dan juga
mengenai Kerajaan Roma. Sebagai contoh saat kelahiran Tuhan Yesus yang dicatat
oleh sejarah pada saat itu adalah sensus penduduk yang dikakukan oleh Kaisar
Agustus terhadap semua daerah kekuasaanya. Pada waktu itu Kaisar Agustus
mengeluarkan perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia (Luk.
2;1). Sejarah tidak mencatat bahwa pada saat itu ada kejadian dialam semesta
bahwa Yesus lahir. Juga saat kematian Tuhan Yesus di kayu salib, terbelahnya
tabir bait suci, dan terjadinya gempa hebat yang dicatat dalam Mat. 27;51
dicatat sebagai gempa bumi biasa bukan dalam kaitannya dengan kematian Tuhan
Yesus di kayu Salib yang terjadi pada tahun 31 Masehi, yang kita kenal sebagai
Jumat Agung.
Minimnya informasi ini sebenarnya sangat menyulitkan jika kita mau mengetahui kapan sebenarnya kelahiran Tuhan Yesus. Jika boleh saya katakan bahwa Kitab Injil bukanlah buku sejarah yang bisa menjadi literature yang memadai sebagai sumber informasi. Walaupun memang sedikit banyak kita bisa melihat hubungan antara Tuhan Yesus dengan sejarah yang terjadi pada saat itu baik budaya, sosial dan politik menyangkut Israel pada zaman Tuhan Yesus. Tetapi itu tidaklah cukup sebagai bahan acuan menyangkut yang lebih detil misalnya tahun, bulan dan tanggal kejadiannya pada saat itu. Oleh karena itulah mau tidak mau untuk mengali informasi yang lebih akurat kita harus melihat sejarah pada saat itu yang dicatat oleh literature sejarah.
Minimnya informasi ini sebenarnya sangat menyulitkan jika kita mau mengetahui kapan sebenarnya kelahiran Tuhan Yesus. Jika boleh saya katakan bahwa Kitab Injil bukanlah buku sejarah yang bisa menjadi literature yang memadai sebagai sumber informasi. Walaupun memang sedikit banyak kita bisa melihat hubungan antara Tuhan Yesus dengan sejarah yang terjadi pada saat itu baik budaya, sosial dan politik menyangkut Israel pada zaman Tuhan Yesus. Tetapi itu tidaklah cukup sebagai bahan acuan menyangkut yang lebih detil misalnya tahun, bulan dan tanggal kejadiannya pada saat itu. Oleh karena itulah mau tidak mau untuk mengali informasi yang lebih akurat kita harus melihat sejarah pada saat itu yang dicatat oleh literature sejarah.
Tahun kelahiran : Masa Herodes Agung
Menyangkut kelahiran Tuhan Yesus secara
eksplisit Alkitab tidak pernah memaparkan secara jelas. Tapi dari kejadian
sejarah pada saat itu kita boleh menafsir kapan Yesus lahir. Pertama,
tahun kelahiran. Alkitab mencatat bahwa ketika kedengaran kepada Raja
Herodes dari orang Majus bahwa ada seorang yang lahir yaitu Raja Israel,
reaksinya adalah agar orang majus memberitahukan dimana tempat lahir Raja itu.
Dengan dalih supaya akupun datang menyembah Dia (Mat 2;8), dengan maksud licik dia
sebenarnya ingin membunuh karena dia merasa kedudukannya terancam karena Raja
yang baru lahir itu. Dari berbagai kejadian itu kita boleh menafsirkan bahwa [1]
kelahiran Tuhan Yesus adalah masa Raja Herodes Agung memerintah (Mat 2;1) yaitu
30 - 4 sM.
Informasi
yang kedua yang dicatat oleh sejarah adalah apa yang oleh ahli
perbintangan, yaitu terjadinya Gerhana Bulan pada tahun 4 sM. Menurut banyak
ahli bahwa Gerhana Bulan inilah yang disaksikan oleh Para Majus yang akhinya
mereka mengakui bahwa kami telah melihat bintangNya (Mat. 2 ; 1).
Ketiga,
yang bisa menjadi informasi kepada kita saat kelahiran Tuhan Yesus yaitu adanya
sensus penduduk yang dilakukan Kaisar Roma untuk semua daerah yang dikuasainya
(Luk 2;1-2). Sensus ini adalah sensus yang dibuat untuk menghitung orang yang
akan mengucapkan janji setia kepada Kaisar di Roma. Sensus ini bukanlah sensus
pajak seperti yang terjadi pada tahun 6 M, tetapi cenderung untuk membuktikan
kepada Kaisar Roma bahwa Herodes bisa diandalkan untuk menjaga wibawa Roma dari
pemberontakan [2]. Sensus ini telah dilakukan sejak tahun 7 sM. Sensus inilah
yang terakhir yang dilakukan Herodes sebelum dia meninggal beberapa hari
setelah anak sulungnya Antipater di vonis hukuman mati oleh kecurigaan Herodes
sendiri dengan tuduhan memberontak terhadap kekuasaannya. Alkitab mencatat
bahwa Yusuf berangkat dari Nazaret ke Betlehem karena dari keluarga dan
keturunan Daud (Mat. 2;4). Pada saat itulah tiba waktunya bagi Maria untuk
bersalin (Mat 2;6).
Hari Raya Israel
Dalam tradisi Israel dikenal tujuh hari
raya Besar yaitu :
1. Hari Raya Paskah (Kel 10;2),
2. Hari Roti tidak beragi (Kel 23;6-8),
3. Hari Raya Buah sulung,
4. Hari Raya Pentakosta (Kel 23;16),
5. Hari Raya Sangkakala (Im. 23;24),
6. Hari Raya Pendamaian (Im 23;26-31),
7. Hari Raya Tabernakel atau dikenal
juga sebagai Hari Raya Pondok Daun (Im. 23; 33-43).
Dari ketujuh hari Raya tersebut
semuanya menunjuk kepada apa yang akan dialami oleh Yesus. Baik kelahiran,
kebangkitan sampai kedatangan Roh Kudus (Pentakosta) semuanya telah diungkapkan
dalam Taurat Musa. Hari kelahirannya? Hari Raya Tabernakel adalah Hari Raya
penunjuk kelahiran Tuhan Yesus.
Hari Raya Tabernakel adalah hari Raya
yang paling meriah dari ketujuh Hari Raya tersebut yang disebut juga sebagai
Festival Cahaya. Saat hari Raya ini Bait Suci dipenuhi dengan cahaya. Ke empat
sudut Bait suci dipasang lampu besar seolah-olah menerangi seluruh Bangsa [3].
Malam seperti inilah Kelahiran Tuhan Yesus dimana orang Majus melihat bintang-Nya
(Mat 2;1).
Bulan Kelahiran Tuhan Yesus
Dalam Injil Lukas 1;5 dicatat bahwa
Maria Ibu Yesus didatangi oleh Malaikat Gabriel dengan mengatakan bahwa
saudaramu Elisabeth (Ibu Yohanes Pembaptis) yang dikatakan mandul itu telah
mengandung. Dan inilah bulan keenam bagi dia.
Dihitung mundur dari bulan keenam dari
pertemuan itu, bulan berapakah kehamilan Elisabeth? Hal ini dapat kita telusuri
dari kisah Elisabeth sendiri yang dikatakan Mandul. Imam Zakharia adalah suami
Elisabeth yang bisu saat bertugas di Bait Allah, mendapat penglihatan saat di
Ruang Maha Kudus. Sekarang bisa kita tafsir bahwa kehamilan Elisabeth terjadi
setelah suaminya mendapat penglihatan di Bait Suci kemudian pulang dan menemui
istrinya.
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah
bulan berapakah Imam Zakharia bertugas?
Kitab Tawarikh memberi kita sedikit kejelasan. Zakharia suami Elisabeth mendapat giliran pada urutan ke-8 (1 Taw. 24;10). Setiap rombongan (Group) bertugas sekali 1 minggu, yang bertugas sesuai dengan kalender keagamaan yaitu bulan Nisan yaitu pertengahan Maret. Tetapi menurut berbagai sumber, setelah giliran Imam Zakharia selesai dia tidak bisa langsung pulang karena bertepatan dengan Hari Raya Pentakosta yaitu akhir Mei, dimana semua Imam diminta untuk bertugas bersama. Oleh karena itu Imam Zakharia harus mendapat tugas lanjutan selama 2 minggu. Akibatnya Imam Zakharia baru bisa pulang antara akhir Mei-Awal Juni. Dihitung enam bulan setelah kehamilan Elisabeth sampai kedatangan Malaikat Gabriel kepada Maria yaitu sekitar Desember, saat itulah kehamilan Maria (Luk 1;36).
Kitab Tawarikh memberi kita sedikit kejelasan. Zakharia suami Elisabeth mendapat giliran pada urutan ke-8 (1 Taw. 24;10). Setiap rombongan (Group) bertugas sekali 1 minggu, yang bertugas sesuai dengan kalender keagamaan yaitu bulan Nisan yaitu pertengahan Maret. Tetapi menurut berbagai sumber, setelah giliran Imam Zakharia selesai dia tidak bisa langsung pulang karena bertepatan dengan Hari Raya Pentakosta yaitu akhir Mei, dimana semua Imam diminta untuk bertugas bersama. Oleh karena itu Imam Zakharia harus mendapat tugas lanjutan selama 2 minggu. Akibatnya Imam Zakharia baru bisa pulang antara akhir Mei-Awal Juni. Dihitung enam bulan setelah kehamilan Elisabeth sampai kedatangan Malaikat Gabriel kepada Maria yaitu sekitar Desember, saat itulah kehamilan Maria (Luk 1;36).

Kalender Ibrani
Jika Kandungan Yesus normal sebagai
Lelaki biasa yaitu selama sembilan bulan maka kemungkinan kelahiranNya adalah
September akhir atau Oktober awal. Saat itulah Israel merayakan Hari Raya
Tabernakel.
Satu hal lagi yang menjadi informasi
bagi kita bahwa kelahiran Tuhan Yesus bukan terjadi di Bulan Desember adalah
para Gembala diladang yang dicatat oleh Alkitab. Lukas 2 ; 8 mencatat “Di
daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak
mereka pada waktu malam”. Siklus para Gembala untuk
menggembalakan kawanan dombanya, bahwa bulan Desember tidak memungkinkan mereka
untuk bermalam diladang. Saat musim dingin datang, sang gembala
akan menggiring kawanan kembali ke kandang yang tertutup. Jika tidak,
domba-domba tersebut bisa mati karena hujan deras, badai es, dan salju. Dari
bulan November sampai musim semi, para gembala tidak akan membawa kawanan
mereka ke luar.
Dunia merayakan tanggal 25 Desember.
Perayaan Natal tidak pernah dirayakan
sampai abad ke III. Didalam Gereja purba sendiri, baik oleh murid-murid Tuhan
Yesus, di Gereja Yerusalem dimana Yakobus, Petrus dan Yohanes dikenal sebagai
sokoguru Jemaat tidak pernah berbicara mengenai Natal. Paulus dalam
surat-suratnya juga tidak pernah menyinggung Natal kecuali pemberitaan Injil.
Satu hal lagi Ensiklopedia Alkitab tidak mencatat mengenai Natal.
Perayaan Natal yang kita Rayakan
sekarang ini tidak terlepas dari perkembangan sejarah dunia. Perayaan Natal
dimulai sejak Raja Konstantin (285-337) menyatakan diri menjadi Nasrani. Di
masanya rakyat Roma ada sebuah tradisi setiap tanggal 25 Desember merayakan
pesta Besar yaitu Hari Raya Saturnalia. Hari raya ini diperingati untuk
menyambut kembalinya Matahari ke Belahan Bumi utara setelah mencapai garis
selatan. Peristiwa Astronomi yang dapat kita alami sampai sekarang mereka
anggap sebagai hari kembalinya Dewa Matahari (band : dengan Hari Raya
Tabernakel).
Sejak saat itu tanggal 25 Desember
diusulkan menjadi Hari Lahir Raja Terang yaitu Tuhan Yesus. Walaupun pada
awalnya terjadi perdebatan dimana Gereja di Yerusalem tidak menerima tanggal
itu. Karena memang diyakini bahwa tanggal itu tidak tepat sebagai kelahiran
Tuhan Yesus. Tetapi secara tidak resmi seolah tak peduli dengan kebenaran, Umat
Nasrani mengakui tanggal 25 Desember sebagai hari Lahir Tuhan Yesus. Pada
Akhirnya Gereja luluh dengan mengadopsi apa yang sudah terjadi dimasyarakat.
Paus Julius I pada pertengahan Abad IV menetapkan tanggal 25 desember sebagai
Hari Natal sampai sekarang ini.
Daftar Pustaka
[1] Kamus Alkitab (Alkitab bahagian belakang) Herodes Agung (37-4 sM)
[2] France, RT. Yesus Sang Radikal, BPK, 2002, hal 31
[3] Ensiklopedia Alkitab jilid I hal 379
[1] Kamus Alkitab (Alkitab bahagian belakang) Herodes Agung (37-4 sM)
[2] France, RT. Yesus Sang Radikal, BPK, 2002, hal 31
[3] Ensiklopedia Alkitab jilid I hal 379
Tidak ada komentar:
Posting Komentar